Jika Kamu Merasa Gagal..

July 16th, 2008 by pipithapsari

Beberapa hari ini aku merasa sangat gagal…..dalam profesi dan pekerjaanku….
Gagal membimbing mahasiswa…..Hasil laporan magang mahasiswaku dinilai ‘ga nyambung’ oleh dosen penguji lain. Duhh….kebodohan apa lagi yang aku perbuat….?
Malu? Jelaslah…! Tapi aku harus mengakui aku salah….Walaupun memang tidak 100% kesalahan ada di aku en mahasiswaku. Sistem dan kondisi juga kurang mendukung. TApi tetap saja…..hatiku tertohok sgt dalam ….sedih bgt…..Bukan Karena merasa ‘dihina’ oleh dosen penguji lain….Mereka ga salah kok….Mereka hanya menjalankan tugas. Tapi kesedihan ku ini karena kenyataan-kenyataan yang aku temui akhir-akhir ini makin memojokkan diriku untuk berpikir bahwa aku memang tidak cukup kompeten untuk menjadi dosen….sebuah profesi yang awalnya memang bukan cita-citaku….tapi dengan jatuh bangun aku berusaha bersabar untuk menyesuaikan diri dan mengejar ketertinggalan.

TAPI….UNTUK MENJADI DOSEN TIDAK HANYA BUTUH NIAT BAIK DAN USAHA KERAS….UNTUK MENJADI DOSEN DIBUTUHKAN IQ DAN KECERDASAN YANG CUKUP TINGGI….DAN ITULAH YANG MUNGKIN AKU GA PUNYA….

Rasanya down banget….
Belum lagi kejadian beberapa hari yang lalu mahasiswa yang meragukan kemampuanku mengoreksi hasil UTS-nya. Dia merasa layak mendapat nilai lebih baik. Syok rasanya. Dengan bersikap begitu secara tidak langsung dia mempertanyakan kompetensiku…..

Kalau saja tujuan aku bekerja di kampus hanya mengisi waktu luang atau sekedar mengais rupiah, mungkin sudah aku tinggalkan dari dulu profesi ini….Namun aku mencoba bersabar…Karena aku yakin Alloh punya skenario dan rencana sendiri menempatkan aku sebagai dosen. Walaupun mungkin banyak yang menganggap aku dosen yang o’on, gampang dikerjain, ga kompeten, dsb….Mengapa setiap kali aku mencoba keluar dari lingkaran dunia kampus aku ga bisa keluar? Aku yakin ada suatu kebaikan dan hikmah yang mungkin baru akan aku ketahui nanti, beberapa tahun lagi, mengapa aku harus jadi dosen? Aku harus kuat dan bersabar untuk terus bersabar dan terus bersabar. Bersabar mengahadapi kelemotan, kegagalan, ketidakberhasilan, kebodohan, etc dari diriku. Kesabaran menghadapi orang lain yang mungkin karenan tidak mengetahui kondisiku, ‘gemes’ menyaksikan aku yang udah sampai bertahun-tahun ga juga mencapai standar kompetensi dan achievement yang ditentukan departemen, fakultas, dan UI.
Namun aku yakin, aku harus mau menerima kritik orang lain, dengan sangat lapang dada….demi kebaikan dan perbaikan diri ku yang amat sangat terbatas sekali kemampuannya.

Ya Alloh….berikanlah hamba kesabaran ya Alloh…
Berikanlah hamba kekuatan….untuk terus berusaha memperbaiki diri….
Aku memang bukan dosen yang outstanding….tapi aku harus berusaha untuk mampu memenuhi berbagai kualifikasi yang ada….walalupun dengan terseok-seok, tertatih, berdarah, menangis…….
Aku yakin bahwa Engkau tidak akan memberikan ujian dan amanah yang tidak mampu diemban oleh makhluk-Mu….

Please be Careful With my Heart

June 11th, 2008 by pipithapsari

Hari Selasa kemarin aku makan bareng temen di Salemba. Abis naro akte kelahiran yang mau diterjemahkan ke penerjemah LBI Salemba, aku iseng mampir ke tempat kerjanya, ngajak makan siang.

Dia bercerita tentang saudara sepuunya yang mengalami kekerasan Rumah Tangga. Mengingatkan kasus yang sama yang terjadi dengan sahabat karibku…
Suami tak bekerja, istri banting tulang, tapi selalu dicemburui dan disakiti dengan pukulan dan tendangan. Miris…Karena pelakunya bukan hanya orang yang ga kenal Tuhan, yang kerjaannya judi atau mabuk2an. Pelakunya bahkan orang2 yang tampak luar sangat saleh, yang ibadahnya luar biasa rajinnya. Ada yang happy ending, suaminya akhirnya sadar. Tapi lebih banyak yang sad ending karena suaminya selalu minta maaf dan berjanji untuk berubah, tapi selalu diulangi. Akhirnya perceraian lah jalan terakhir demi kebaikan anak2 mereka.

Padahal pernikahan itu kan berarti suami mengambil sumpah di hadapan Alloh untuk melindungi dan mengayomi istrinya? 
Kerasnya hidup dan kesulitan ekonomi yang menghimpit memang kerap menjadi sumber masalah. belum lagi masalah komunikasi yang tak lancar.

Ada lagi kasus istri yang selingkuh dengan orang lain atau istri yang durhaka kepada suami atau menyakiti anak2 nya.

Ahh…aku jadi ngeri ….dan berharap Alloh selalu menjaga hati aku dan suami untuk selalu bersemai cinta sampai di ujung waktu nanti….

Aku jadi teringat ada lagu yang ngetop waktu aku masih SMP. Dulu aku ga ngerti makna lagu itu, cuma seneng denger musiknya. Tap ketika aku lihat liriknya, maknanya dalam sekali. Sepertinya suami-istri bagus kalau bisa memaknai lagu ini.

…From the very start….please be careful with my/heart…

Sedari awal…ketika mengawali bahtera rumah tangga….masing-masing harus punya komitmen untuk saling menjaga hati ….tentunya sih tak terlepas dalam rangka ibadah…dalam naungan Maha Daya Cinta….cinta kepada Khalik Sang Pencipta…

PLEASE BE CAREFUL WITH MY HEART

By : Jose MAry Chan & Regine Velasquez
If you love me, like you tell me
Please be careful with my heart
You can take it, just don’t break it
Or my world will fall apart
You are my first romance, and I’m willing to take a chance
That til life is through, I’ll still be loving you
I will be true to you, just a promise from you will do
From the very start, please be careful with my heart
I love you and you know I do
There’ll be no one else for me
Promise I’ll be always true, for the world and all to see
Love has heard some lies softly spoken
And I have had my heart badly broken
I’ve been burned and I’ve been hurt before
So I know just how you feel, trust my love is real for you
I’ll be gentle with your heart, I’ll caress it like the morning dew
I’ll be right beside you forever
I won’t let our world fall apart
From the very start, I’ll be careful with your heart
You are my first (and you are my last) romance
And I’m willing to take a chance (I’ve learned from the past)
That til life is through, I’ll still be loving you
I will be true to you (only to you)
Just a promise from you will do
From the very start (from the very start)
From the very start (from the very start)
Please be careful with…(I’ll be careful with…)
(your) (my) heart….

Nasib Jadi Staf Akademik

May 21st, 2008 by pipithapsari

Beginilah nasib jadi staf akademik. Gajinya sudh termasuk mengajar 3 mata kuliah, 2 di reguler dan 1 mata kuliah di ekstensi. Walaupun memang saya masih harus banyak bersyukur ke hadirat Aloh karena masih banyak berjuta orang di Indonesia yang bahkan ga punya uang untuk makan nasi 3 kali sehari. Tapi tekadang miris kalau sampai ga mencapai target 14 kali pertemuan untuk masing-masing dari ketiga mata kuliah tersebut, kita dianggap berhutang sama fakultas. Dan harus dibayar dengan honor 1 mata kuliah tambahan lainnya (ini asumsinya kalau departemen dan program ekstensi memberikan kita jatah 2 mata kuliah di departemen dan 2 mata kuliah di pogram). Kalau itupun tidak tercapai, kita harus menutupinya dengan honor membimbing skripsi mahasiswa yang jumlahnya juga ga seberapa. Kadang ‘hutang’ itupun ga tertutupi kecuali kita menguji komprehensif mahasiswa tanpa dibayar lebih dari 10 orang, minimal 5 org di reguler dan 5 org di ekstensi.  Walhasil, memang hasil yang kita dapatkan relatif lebih kecil dibandingkan rekan-rekan BHMN lain yang ditempatkan di struktural.

Tapi sekali lagi kami harus lebih banyak bersyukur…..itu juga yang selalu di ungkapkan para pembuat kebijakan…seharusnya kami bersyukur….karena di fakultas lain staf akademiknya dibayar sangat minim….ga sebesar gaji kami. Dan sekali lagi kami harus banyak bersyukur…. karena kami tidak dibebani kewajiban absen….karena tugas utama kami katanya adalah mengajar dan meneliti….Walaupun kami samapai sekrang sudah cukup ‘keder’ membagi waktu dengan mengajar 4 mata kuliah (yg kadang kami ga bisa dapet full 1 mata kuliah sehingga utk mencapai 4 kelas, bisa2 memegang 6 mata kuliah yang berbeda….), dimana memegang mata kuliah itu sudah termasuk bikin silabus, soal, koreksi ujian, koreksi tugas2, kuis, dsb. Kami juga harus membagi waktu utk membimibing mahasiswa yang dalam satu semester bisa numpuk lebih dari 5 org, karena kemampuan mahasiswa jg berbeda2…..Padahal sebagai staf BHMN kami dituntut untuk melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Kalau alasannya karena kesehatan arau harus membagi waktu dengan keluarga tentu saja tidak diterima. Karena selalu dibandingkan dengan si Ibu A kok bisa, si Ibu B kok bisa….Yah mungkin memang kami yang kurang ulet kali yaa…walalupun waktu kita juga banyak habis untuk ‘berjibaku’ dengan angkot, kereta api, bis dll yang kadang tak menentu jadwalnya….Sementara ibu2 yg jadi patokan selalu diantar-kjemput sopir dengan mobil yang nyaman…Tapi emang kami aja kali yang kurang cerdas membagi waktu kami dengan efisien….

Kami juga harus bersabar melayani mahasiswa yang menjadi bimibingan akademik kami di program ekstensi. Karena mereka sudah bayar mahal utk kuliah, wajar kalau mereka menuntut servis yang memuasan dari program studi. Namun sebagai pembimbing kaademis kami juga memiliki keterbatasan pada kebijakan program studi yang kini harus selalu merujuk pada kebijakan fakultas dan UI, tidak seperti tahun2 sebelumnya yang otonom. Sehingga kami sering menghadapi kemarahan2 mahasiswa karena sistem SIAK-Ng, kurikulum, pilihan mata kuliah, dsb…. Dan yang terkadang membuat kesal ketika mahasiswa membandingkan dengan pengalaman kakak2 kelas mereka yg tentu saja kebijakannya berbeda dg kebjiakan saat ini. Paling sedih adalah kalau mahasiswa sudah ngotot, dan tdk mau terima kebijakan program dg segala keterbatasannya. Ada yg melapor ke rektor….ada yang marah2nya ke kami, ada yg ngancem bakal demo lewat BEM, dll….Padahal kami hanya menalankan peraturan yang bukan dibuat berdasarkan keinginan kami…..atau bahkan kepala program sekalipun. Semua program saat ini tersentralisasi ke departemen, fakultas, dan UI. Tapi semua kemarahan itu harus kami hadapi dengan bijak….semua itu masukan untuk perbaikan di masa yang akan datang…Walaupun rasanya agak pesimis karena pahitnya koordiansi dan integrasi setelah sekian lama otonomi dan di era di mana dunia manajemen saat ini bergerak ke arah desentralisasi.

Dan sekali lagi kami harus selalu bersyukur…..karena masih diberikan kesempatan bekerja di fakultas. Karena katanya banyak sekali orang2 yg antri utk menempati posisi kami. JAdi kalau kami mengeluh terus2an dan ga mau bersyukur….maka akan dengan sanagat mudah ibarat menjentikkan jari tangan utk mengganti kami dengan orang lain yg lebih rajin dan lebih patuh….

Dan kami masih harus banyak bersyukur masih punya ruangan di fakultas sedangkan banyak dosen yang bahkan tidak memiliki ruangan kerja sendiri di falutas. Alhamdulillah masih punya komputer dan bisa akses internet. Bisa YM-an dsb…

However….masih banyak hal yg harus disyukuri dari setiap pekerjaan…..Semua pekerjaan ada enak dan ada tidaknya. Katanya sih tingkat kedewasan kita teruji di sini. Kami masih jauh lebih beruntung dibandingkan berjuta rakyat miskin Indoneisa yang kelaparan dan resah dengan kenaikan BBM. Kami masih bisa makan 3 kali sehari dnegan lauk sehat, sementara orang lain cuma makan nasi aking atau bungkil jagung, dan tanpa lauk apapun kecuali garam.

Ya Alloh…jadikanlah kami makhuk-Mu yang pandai berdzikir dan bersyukur kepada-Mu. ampunilah kami yang sering mengeluh….Berikanlah jalan keluar untuk rakyat Indonesia keluar dari himpitan kesulitan dan bencana….Mudahkanlah rizki kami ya Alloh…Jauhkanlah kami dari rizki yang syubhat dan haram…..Berikanlah kami keselamatan dunia-akhirat…Amiiiinnn….

Met Hari Kartini…!

April 20th, 2008 by pipithapsari

"Ibu kita Kartini…Putri sejati…Putri Indonesia….harum namanya…
Ibu Kita Kartini…pendekar bangsa….pembela kaumnya….untuk merdeka….
Wahai Ibu Kita Kartini…..Putri yang mulia….
Sungguh besar cita2nya….bagi Indonesia…"

Apa yang kita ingat tentang Hari Kartini yang jatuh pas tanggal 21 April tiap tahunnya?
Karnaval anak2 TK sampe SD pake baju daerah? Lomba2 busana daerah untuk yang dewasa? Lomba masak? Atau apa?


Kartini…sosok wanita muda, cerdas, dan berbudi santun…
Kartini adalah sosok yang justru membuatku makin dekat kepada Islam, sehingga aku mau ngaji, pakai jilbab, mau berbusana muslimah, dan mau mengubah kelakuanku yang tomboy.

Kartini yang cerdas protes mengapa wanita ga boleh sekolah dan belajar seperti anak2 laki2. Padahal wanita adalah istri2 dan ibu2 dari penerus bangsa ini. Apabila wanita2 dari suatu bangsa lemah, maka lemah pula bangsa ini.

Kartini yang kritis heran mengapa Al Qur’an ga boleh diterjemhkan dan ditafsirkan di tanah Jawa? Mengapa hanya kyai2 yang boleh tahu artinya. Akhirnya Kartini belajar tafsir Qur’an kepada salah seorang kyai. Sampai akhirnya ia sangat tersentuh dengan salah satu petikan ayat dalam QS Al-Baqarah : 257, yaitu:

"Alloh pelindung orang-orang beriman. DIA mengeluarkan mereka dari kegelapan(kegelapan)  menuju cahaya(keimanan)…."

Kalimat tersebut lah yang menjadi inspirasi dalam surat2 berikutnya yang dialamatkan kepada para sahabatnya di Belanda, yang kemudian ‘diplesetin’ jadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Sayang…Kartini keburu wafat tak lama setelah melahirkan anak semata wayangnya. Sehingga belum banyak ia belajar tentang Qur’an, dan bahkan ia belum sempat menyentuh hadits.

Kalau saja Kartini masih hidup….dia tentunya akan protes dengan berbagai fenomena yang terjadi pada wanita saat ini.

Ad ibu yang tega membunuh anaknya sendiri. Ada ibu yang terlalu sibuk dengan karirnya sehingga anak terabaikan. Ada wanita2 yang menuntut persamaan hak sedemikian rupa tanpa memandang norma adat istiadat dan agama.

Kartini memperjuangkan sekolah untuk wanita di zamannya supaya wanita bisa sama pintarnya dengan laki2 dengan tujuan supaya para wanita Indonesia bisa mencetak generasi2 penerus bangsa yang cerdas dan beriman. "Ibu adalah sekolah buat anak-anaknya", kata Kartini. Ibulah yang bertanggung jawab mendidik anak2nya sehingga menjadi manusia yang berguna.

Apakah dengan demikian wanita jadinya harus ekstrim kanan-kiri. Yang ekstrim kiri mengatakan, wanita punya hak yang sama dengan pria. Sampai2 di dunia barat, wanita berhak memutuskan ga mau punya anak dengan alasan karir, repot, dsb. Atau istri2 yang kini ga mau hormat sama suami, malah akhirnya menciptakan komunitas "Ikatan Suami2 Takut Istri (ISTI)" . Hukum Islam pun dihujat karena dianggap ga adil sama wanita. Padahal kalau dikaji lebih dalam, Islam begitu sayang, melindungi, dan menghormati kaum wanita.

Di ekstrem kanan, wanita sama sekali ga punya ruang untuk bergerak. Wanita harus di rumah saja. Tanggung jawabnya hanya kasur dan dapur. Kerjanya hanya ngurus rumah tangga, betapapun  wanita itu ingin berkiprah di dunia luar rumahnya. Wanita juga ga boleh protes apapun yang ditetapkan oleh orang tua atau suaminya. Padahal, Islam menganut prinsip egaliter antar suami-istri, yang dilandasi cinta, saling menghormati, dan saling menerima.

So…gimana dong kita2 para muslimah dalam meneladani Kartini?
Setiap punya pilihan hidup yang berbeda. Dan semua itu harus dengan kesepakatan bersama antar suami-istri. TAWAZUN….itulah kuncinya…

Ada yang dikasih amanah untuk jadi Ibu Rumah Tangga full time, dan menurutku ini salam sekali bukan sesuatu yang mudah atau hina. Justru sangat mulia. Asalkan jadi ibu RT plus2. Yang cerdas, bisa mendidik anak dengan baik, bisa ngatur keuangan dg baik, menjaga suami dari harta yang ga halal, menjaga hati suami, dll. Trus jangan sampe ga gaul, ga tahu perkembangan informasi di dunia. Trus jangan sampai stress, jangan sampai (naudzu billahi min dzalik…) anak dianiaya atau dibunuh karena ibunya stress.

Kalau yang punya potensi, dan ingin mengaktualisasikan diri di dunia kerja, dunia bisnis, atau akademik, monggo ajah. Asalkan ingat bahwa anak kita bukan anak pembantu. Memang, sangat berta bagi waktu antara karir dengan keluarga. Aku pun sudah mengaami beratnya cobaan tsb. Kita pun akan menghadapi dilema antara kinerja, pencapaian standar, dengan waktu kita dengan suami dan anak2. Cemoohan, teguran, peringatan dari pimpinan dan rekan2 sekerja mungkin akan jadi makanan sehari2. Tapi cobalah terus minta kekuatan dari Alloh dan terus berupaya se-profesional mungkin.  Tapi kalau udah ga balance, mungkin itulah saatnya kita mengurangi load karir kita, atau bahkan kembali menjadi full timer mom…

Intinya…wanita sekarang emang harus bisa jadi wonder woman, super mom, etc…
But…sekali lagi…ingatlah bahwa IBU ADALAH SEKOLAH UNTUK ANAK2NYA…
Jangan sampai kita sia2 kan perjuangan Kartini…

SELAMAT HARI KARTINI….!

Selamat Jalan Pak Tholib…

April 20th, 2008 by pipithapsari

Innalillahi wa inna ilaihi raajii’uun….

Hari Ahad, 20 April 2008, Bp. Abdul Mutahlib, SE, MSM telah berpulang ke haribaan Illahi. Belaiu adalah salah satu dosen senior yang telah puluhan tahun berkiprah di kampus FEUI. Beliau pernah menjadi Kepala Program Ekstensi Manajemen FEUi, tempatku sekarang bekerja.

Yang berkesan dari beliau adalah ketika aku cerita lagi proses seleksi beasiswa Depkominfo, beliau yang setiap ketemu selalu nanya progressnya. "Gimana, Hapsari, udah keterime belon? Di negara mana? Ayo kamu musti dapet ye…musti sekoleh..musti brangkat ke luar negri…!" Begitulah gaya Betawinya yang khas kalau sedang bicara. Pesan terakhirnya seperti amanah yang disampaikan olehnya untukku, sebagai generasi penerusnya di FEUI. Pesan itu membuatku semangat lagi, setelah sebelumnya semangat untuk meneruskan kuliah ke program doktoral makin melemah. Aku harus semangat kuliah, sesulit apapun yang aku hadapi,  aku harus kuat…

Terima kasih Pak Tholib…
Dulu Bapak adalah dosenku, kemudian aku juga pernah jadi asisten Bapak, kemudian pernah ngajar bareng jadi co-teaching, terus pernah nguji kompre bareng….
Semua memori tersebut akan menjadi kenangan tersendiri di hatiku dan hati semua orang yang pernah mengenal Bapak.

Semoga amalan Bapak diterima di sisi-Nya….
Semoga segala dosa2 Bapak diampuni oleh-Nya….
Amiin….

Maafkan……

April 18th, 2008 by pipithapsari

"Habis gimana…hanya mereka yang dengan tulus membantuku di kala kesulitan. Dan hanya orang-orang seperti mereka yang pantas aku jadikan panutan….."

Kata-kata itu terngiang terus di telingaku…..
Dug…dada ini terasa langsung sesak mendengarnya. Hati juga merasakan keperihan yang mendalam…Ketika sholat pun air mata spontan tumpah dari pelupuk mata….
Dan aku merasa begitu jauh darinya, setelah sebelumnya terjalin persahabatan yang begitu indah….

Bukan…aku bukan menyalahkan dia yang mulai melihat kebaikan di sisi pihak lain….Sama sekali tidak…
Tapi aku justru mulai merenungkan….jangan2 selama ini segala uneg2 dan kekecewaan yang ia alami bersumber dari aku dan rekan-rekanku….

Peristiwa ini menjadikan bahan perenungan yang dalam bagiku…
Mungkin aku dan rekan2ku mulai harus berbenah banyak sekali dalam ilmu, akhlak, profesionalisme, dsb…

Aku takkan marah, aku takkan benci kepadanya bila ia lebih memilih ‘bersahabat’ dengan yang lain. Semua orang berhak untuk memilih dan berpendapat. Aku akan tetap sayang kepadanya seperti sebelumnya, walaupun kini aku mungkin bukanlah lagi menjadi tempatnya berbagi dan bercanda. Ia kan tetap menjadi adik kecilku, dengan harapan suatu saat dia kembali dengan semangatnya, dengan keceriaannya, dengan segala optimismenya.

Maafkan aku….adikku….
Ya Alloh ampuni kami yang mungkin salah dalam berucap dan  bertindak.
Ampuni kami juga bila kerap menyakiti orang lain…

Learning English

February 5th, 2008 by pipithapsari

I have a bad fluency in English….
If I talk to other people….my conversation is always awful……
My writing in English is as bad as my conversation….
Even I have relatively good TOEFL score, it doesn’t mean that I have good fluency in English.
In an English training, my tutors gave me some tips to improve my English comprehension…..

  1. Be confident to exercise English by talking to our family, friends, and so on
  2. Try to exercise your writing by making a diary in English or making some kind of report in English
  3. Chat with your chatting friends in English
  4. Attend discussion in English

That’s all some good tips for us to learn more about English language. I hope it will be useful for all of us.

Sejauh Apa Aku Melangkah

January 25th, 2008 by pipithapsari

Kalau lagi browsing2 FS teman, kerabat, sahabat, saudara….ada dua perasaan yang menyeruak dalam hati. Bangga karena melihat kesuksesan mereka semua di bidang akademis, pekerjaan, profesi, dan keluarganya. Tetapi di sisi lain kadang ada rasa sedih dan iri yang juga muncul. Bukan…bukan karena dengki….tetapi keirian ini timbul justru karena sekarang aku merasa aku sedang ‘terperangkap’ pada rutinitas yang membuat diri ini gak berkembang dan lebih maju lagi. Terutama dari segi mobilitas. Kalau melihat FS temen2ku sebagian besar dari mereka memiliki mobilitas luar biasa secara geografis, baik ke luar kota maupun ke luar negeri. Sementara kadang aku miris melihat gerakku yang cuma dari kampus Depok-Depok 1, kadang2 ke Salemba atau ke rumah ibuku di Duren Sawit, nyaris statis, dan itu terjadi setelah aku kerja di Program Ekstensi Manajemen FEUI. Sejak tahun baru Muharram lalu aku jadi berpikir ulang dan merenung tentang stagnasi ini. Aku harus membuat resolusi, gebrakan, perubahan di tahun 2008 ini; baik dari segi duniawi maupun akhirat. Aku ingin kembali dinamis, terus mencari pengalaman baru, dan terus belajar, dan tentunya ingin punya pengalaman ke luar negeri. Bukan untuk gaya2an. Tetapi berdasarkan pengalaman rekan2, pengalaman ke luar negeri akan menambah wawasan kita, paling enggak ngelancarin Bahasa Inggris kita (mengingat conversation ku masih ancur2an bin belepotan karena ga pernah dilatih bicara, padahal TOEFL paper based-ku nyampe 573). Selain itu, aku jadi ingat ucapan salah seorang sahabatku yang sudah berpengalaman keliling Asia Tenggara yang bilang bahwa setelah dia keliling Asia Tenggara, justru dia baru menyadari dan sangat menghargai kekayaan alam dan budaya Indonesia yang beraneka ragam.

So…..di tahun 2008 ini aku tidak boleh terjebak lagi dengan pekerjaan2 ku di Ekstensi, yang membuat langkah ini sering sulit untuk bebas bergerak….aku harus memulai tekad untuk mencari beasiswa S3…..ke luar negeri. Kalau tdk dapat ya sdh, yang penting sudah usaha, mungkin bukan rejekiku. Walaupun aku juga ga pernah yakin akan kemampuanku untuk melalui pendidikan S3 (mengingat IQ bukan tergolong jenius, biasa bgt, std dan nialai TPA-ku yang jg masih belum memenuhi standar Bappenas, he he…) tapi profesiku menuntut demikian. Kalau aku mau maju seperti rekan2ku…aku harus punya tekad kuat untuk melangkah ke sana…Doakan yang temans spy cita2 kuliah lagi terwujud, walaupun misalnya hanya di dalam negeri. Amiin….

Mengapa Harus Cantik ?

March 21st, 2007 by pipithapsari

Setiap kali saya berusaha menjodohkan teman-teman dekat saya yang sudah berusia 25 sampai 30-an tahun, saya sering berhadapan dengan penolakan dari pihak laiki-lakinya. Alasannya semua sama, entah kebetulan yang saya temui pria-pria yang punya karakter yang sama atau tidak. Mau tau alasannya apa?  Yups….! Soal fisik, appearance, dan kecantikan dari para wanita tersebut. Katanya sih kurang menrrik, kurang memiliki passion, kurang cantik, kurang putih, kurang semampai, dan kurang dalam segala ukuran-ukuran fisisk lainnya.

Gubraaakkkk…….
Gak sopannn…..kadang aku bingung deh knapa sihhh cowok itu sering menomorsatukan  masalah fisik? Padahal di balik wajah yang kurang cantik, atau fisik yang kurang oke, banyak tersimpan akhlak yang mulia. Malah kadang di balik keayuan, kelangsingan, atau kemolekan, tersimpan sifat materialistis atau sifat-sifat buruk lainnya.

Saya punya beberapa teman yang memang sekilas mereka tidak punya daya tarik secara fisik. Tapi mereka memiliki prestasi yang jauh lebih baik dari yang lain. Ada yang hafal Qur’an sampai lebih dari 10 juz, ada yang sukses dalam karirnya, ada yang pandai menulis, ada yang orang nya super-super sabar, ada yang tough dalam hidupnya…..Tapi mengapa para pria langsung menolak tanpa berusaha untuk kenal lebih dekat dan menyelami keluhuran budi mereka, sebelum langsung menolak dengan alasan : gak cantik, gak oke secara body….huhhh

Emang sihh bukan brarti terus wanita tuh cuek jadi gak boleh ngerawat tubuhnya. Yahhh….balance ajalah….tergantung sikon, keuangan, dll. Kalo udah bawaaan dari lahir kondisi fisiknya kurang, masak wanita itu yang disalahkan? Nah…kalo yang kurang karena gak ngerawat badan, misalnya badannya bau, rambutnya lepek en kutuan, itu mah lain soal. Islam menghargai kebersihan en keindahan. So, wanita juga musti sedikitnya keliatan bersih lah….Gak hars mahal pergi ke salon. Tapi kalo yang mampu ya monggo….Tapi sekarang udah banyak produk perawatan yang murah meriah seperti kalo sampo sekarang udah banyak yang 2 in 1, jadi gak usah beli conditioner, jadinya lebih irit.  Kalau mata berkantung, kompres aja sama kain yang direndam air teh basi, atau kantong teh bekas. Dan masih banyak lagi tips-tips tampak bersih dan bugar, tanpa mahal-mahal.

So, ayolah para pria…., janganlah melihat calon istri  dari fisik en wajah. Zaman sekarang, wajah en tubuh bisa dipermak, asal suami-suami mendukung (baik secara materi dan moril). Tapi please deh ahh….hadits dari Rasulullah aja menyuruh kita untuk melihat seseorang dari ‘cover’nya aja. Tapi lebih kepada hatinya.

Wallahu a’lam bishowwab….

NB : Btw, menurut teman-teman….aku ini …..ehm menarik gak ya secara fisik (sekarang loh, setelah beranak dua gendut, tidak seperti zaman dahulu kala…..) hua hua hua……mulai deh narsis…..!

TITANIC VS KM SENOPATI

January 28th, 2007 by pipithapsari

Tadi malem di
Trans TV ada film Titanic. Tu film sebenarnya udah sering bgt di puter di TV. Tapi
emang kayaknya filmnya klasik, gak bikin bosen nontonnya.

Tapi aku jadi
sempet mikir….huh….mentang-mentang banyak kecelakaan kapal laut, filmnya
kayak beginian.

Tapi kalo iseng
bikin analisa sesaat (yang kalo menurut kaidah ilmiah bisa salah, en aku bisa
diomelin semua dosen, he he), ada kemiripan antara kasus Titanic dg KM
Senopati. Walaupun miripnya gak byk.

Psti pada protes,
lah beda bgt, KM Senopati tampangnya aja udah bobrok tampak luar, sdgkan
Titanic sebelum karamnya tuh kapal pesiar termewah di zamannya. Dilihat dari
penyebab kecelakaan juga beda. Kalo Titanic berangkat dalam kondisi prima,
karena masih baru kan…, tapi kapal yg ngangkut ribuan orang ini ‘nubruk’
gunung es, kalo Senopati emang kondisi kapalnya udah kudu masuk dok (bengkel),
kelebihan muatan, en bocor…..(parah bgt gak sih kondisi perkapalan
Indonesia).

 

Aku nemu sesuatu
yg agak sama aja….yaitu masalah kesombongan manusia kepada Tuhannya.

Sang ahli
pembuatan kapal yg udah puluhan tahun, yg mendisain Titanic, sesumbar bahwa
kapalnya tuh kuat bgt, dr bahan2 no.1, dan saking yakinnya gak bakal kecelakaan
di tengah laut, doski sengaja cuma bikin en naro sekoci sedikit, cuma bisa
nampung kurang dari 1/3 penumpangnya.

Tapi mereka lupa
bahwa alam lebih ganas dari yg mereka kira…..mereka gak ngukur bahwa ternyata
bahan2 pembuat kapal tuh rapuh, ketabrak gunung es jug KO.

 

Nah, kapal
Senopati lebih parah lagi. Udah dalam kondisi tidak laik jalan, masih aja pede
gitu awak kapalnya jalan. Pihak manajemen nya juga apa gak mikir yaaa….. Kalo
kecelakaan tejadi, itu berapa nyawa jadi tumbalnya…Mereka agak2 sombong, krn
selama ini toh merkea fikir baik2 aja, gak pernah kecelakaan. Yang dipikirin Cuma
duit en duit aja ….! Dan begitu pedenya shg sekoci nya pada kempes….Pelampung
yg disediakan juga cuman cukup buat 1/3 penumpang (karena kelebihan muatan
pula)….

Tapi itulah
skenario yang telah ditentukan oleh Alloh…akhirnya kapal itu karam dengan
korban bergelimpangan. Herannya waktu air itu udah masuk ke geladak kapal, awak
kapal masih tenang2 aja, bilang gak ada apa2….Malah gak menyarankan untuk
pakai pelampung, malah bilang, ”Tenang…tenang….gak ada apa2 kok…” Masy
aAlloh……

 

Kesombongan…..memang
bisa jadi penyebab bencana….Makanya kita kudu banyak2 minta ampun en
berlindung sama Alloh….kali2 aja ada di hati kita sebersit kesombongan yang
bisa jadi bibit bencana. Trus…kita kudu bisa belajar ka;i ya dari pengalaman
yang ada….mau terbuka nerima saran orang lain, karena kebenaran itu bisa
datang dari siapa saja, termasuk musuh kita.

 

Ya
Alloh…lindungilah diri hamba dari kesomobongan diri…dari
ketakaburan….dari sikap merasa cukup atas kondisi diri….atsa sikap merasa
paling benar en paling suci sendiri…..Astaghfirullah…..