Met Hari Kartini…!
"Ibu kita Kartini…Putri sejati…Putri Indonesia….harum namanya…
Ibu Kita Kartini…pendekar bangsa….pembela kaumnya….untuk merdeka….
Wahai Ibu Kita Kartini…..Putri yang mulia….
Sungguh besar cita2nya….bagi Indonesia…"
Apa yang kita ingat tentang Hari Kartini yang jatuh pas tanggal 21 April tiap tahunnya?
Karnaval anak2 TK sampe SD pake baju daerah? Lomba2 busana daerah untuk yang dewasa? Lomba masak? Atau apa?
Kartini…sosok wanita muda, cerdas, dan berbudi santun…
Kartini adalah sosok yang justru membuatku makin dekat kepada Islam, sehingga aku mau ngaji, pakai jilbab, mau berbusana muslimah, dan mau mengubah kelakuanku yang tomboy.
Kartini yang cerdas protes mengapa wanita ga boleh sekolah dan belajar seperti anak2 laki2. Padahal wanita adalah istri2 dan ibu2 dari penerus bangsa ini. Apabila wanita2 dari suatu bangsa lemah, maka lemah pula bangsa ini.
Kartini yang kritis heran mengapa Al Qur’an ga boleh diterjemhkan dan ditafsirkan di tanah Jawa? Mengapa hanya kyai2 yang boleh tahu artinya. Akhirnya Kartini belajar tafsir Qur’an kepada salah seorang kyai. Sampai akhirnya ia sangat tersentuh dengan salah satu petikan ayat dalam QS Al-Baqarah : 257, yaitu:
"Alloh pelindung orang-orang beriman. DIA mengeluarkan mereka dari kegelapan(kegelapan) menuju cahaya(keimanan)…."
Kalimat tersebut lah yang menjadi inspirasi dalam surat2 berikutnya yang dialamatkan kepada para sahabatnya di Belanda, yang kemudian ‘diplesetin’ jadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Sayang…Kartini keburu wafat tak lama setelah melahirkan anak semata wayangnya. Sehingga belum banyak ia belajar tentang Qur’an, dan bahkan ia belum sempat menyentuh hadits.
Kalau saja Kartini masih hidup….dia tentunya akan protes dengan berbagai fenomena yang terjadi pada wanita saat ini.
Ad ibu yang tega membunuh anaknya sendiri. Ada ibu yang terlalu sibuk dengan karirnya sehingga anak terabaikan. Ada wanita2 yang menuntut persamaan hak sedemikian rupa tanpa memandang norma adat istiadat dan agama.
Kartini memperjuangkan sekolah untuk wanita di zamannya supaya wanita bisa sama pintarnya dengan laki2 dengan tujuan supaya para wanita Indonesia bisa mencetak generasi2 penerus bangsa yang cerdas dan beriman. "Ibu adalah sekolah buat anak-anaknya", kata Kartini. Ibulah yang bertanggung jawab mendidik anak2nya sehingga menjadi manusia yang berguna.
Apakah dengan demikian wanita jadinya harus ekstrim kanan-kiri. Yang ekstrim kiri mengatakan, wanita punya hak yang sama dengan pria. Sampai2 di dunia barat, wanita berhak memutuskan ga mau punya anak dengan alasan karir, repot, dsb. Atau istri2 yang kini ga mau hormat sama suami, malah akhirnya menciptakan komunitas "Ikatan Suami2 Takut Istri (ISTI)" . Hukum Islam pun dihujat karena dianggap ga adil sama wanita. Padahal kalau dikaji lebih dalam, Islam begitu sayang, melindungi, dan menghormati kaum wanita.
Di ekstrem kanan, wanita sama sekali ga punya ruang untuk bergerak. Wanita harus di rumah saja. Tanggung jawabnya hanya kasur dan dapur. Kerjanya hanya ngurus rumah tangga, betapapun wanita itu ingin berkiprah di dunia luar rumahnya. Wanita juga ga boleh protes apapun yang ditetapkan oleh orang tua atau suaminya. Padahal, Islam menganut prinsip egaliter antar suami-istri, yang dilandasi cinta, saling menghormati, dan saling menerima.
So…gimana dong kita2 para muslimah dalam meneladani Kartini?
Setiap punya pilihan hidup yang berbeda. Dan semua itu harus dengan kesepakatan bersama antar suami-istri. TAWAZUN….itulah kuncinya…
Ada yang dikasih amanah untuk jadi Ibu Rumah Tangga full time, dan menurutku ini salam sekali bukan sesuatu yang mudah atau hina. Justru sangat mulia. Asalkan jadi ibu RT plus2. Yang cerdas, bisa mendidik anak dengan baik, bisa ngatur keuangan dg baik, menjaga suami dari harta yang ga halal, menjaga hati suami, dll. Trus jangan sampe ga gaul, ga tahu perkembangan informasi di dunia. Trus jangan sampai stress, jangan sampai (naudzu billahi min dzalik…) anak dianiaya atau dibunuh karena ibunya stress.
Kalau yang punya potensi, dan ingin mengaktualisasikan diri di dunia kerja, dunia bisnis, atau akademik, monggo ajah. Asalkan ingat bahwa anak kita bukan anak pembantu. Memang, sangat berta bagi waktu antara karir dengan keluarga. Aku pun sudah mengaami beratnya cobaan tsb. Kita pun akan menghadapi dilema antara kinerja, pencapaian standar, dengan waktu kita dengan suami dan anak2. Cemoohan, teguran, peringatan dari pimpinan dan rekan2 sekerja mungkin akan jadi makanan sehari2. Tapi cobalah terus minta kekuatan dari Alloh dan terus berupaya se-profesional mungkin. Tapi kalau udah ga balance, mungkin itulah saatnya kita mengurangi load karir kita, atau bahkan kembali menjadi full timer mom…
Intinya…wanita sekarang emang harus bisa jadi wonder woman, super mom, etc…
But…sekali lagi…ingatlah bahwa IBU ADALAH SEKOLAH UNTUK ANAK2NYA…
Jangan sampai kita sia2 kan perjuangan Kartini…
SELAMAT HARI KARTINI….!