Kepergiannya….
March 6th, 2006 by pipithapsariUmur, rizki, jodoh, semua itu telah diatur oleh Sang Maha Pencipta. Kematian adalah suatu keniscayaan bagi setiap manusia. Manusia tak dapat menentukan kapan dan bagaimana prosesnya dalam menghadap Alloh swt. Manusia hanya bisa berikhtiar, mengumpulkan amalannya di dunia sebagai bekalnya menuju gerbang akhirat. Setiap manusia bisa berada dalam kondisi khusnul khotimah maupun su’ul khotimah.
Pagi itu, tanggal 14 Februari 2006, setelah sembuh dari gejala tipes yang telah hampi dua minggu membuat terkapar di rumah, seperti biasa, saya mulai aktivitas di kantor di Pusat Layanan Komputer dan Jaringan (PLKJ) FEUI. Dan seperti hari-hari sebelumnya, pagi-pagi biasanya saya ‘ngeteh’, sarapan sambil buka internet dan Yahoo Messanger, seblum mulai kerja.
Betapa kagetnya saya membaca e-mail dari milis Al-Irfan, tentang berita wafatnya seorang yang sudah saya anggap kakak sendiri.
Tertulis di situ : Telah wafat, Dewanto Tejokusumo, dalam kecelakaan di sillo Bogasari, tgl 11 Februari 2006.
Rasanya tak percaya, saya baca e-mail itu berulang kali, sebelum saya telfon suami yg masih belum pulih dari tipesnya juga. Suara saya tersekat ketika mengabarkan hal itu. Suami juga sangat terkejut. Saya tak bisa menangis, entah kenapa. Baru setelah sholat Dzuhur, air mata saya tumpah. Saya cukup sedih karena tidak tahu menahu hal ini sama sekali, tidak sempat ikut menyolatkan dan menguburkannya.
Sorenya ketika pulang kantor, entah kenapa badan lemas sekali. Saya bahkan tidak berani menelepon Dewi istrinya, saya bingung mau bicara apa, saya mungkin hanya menangis di telepon. Suami saya juga gelisah. Dia bahkan tidak bisa tidur. Kepergian Dewo yang tiba-tiba seperti petir yang menyambar di siang hari. Dewo seperti sudah menjadi keluarga kami sendiri. Teringat waktu Dewo sekeluarga datang beberapa bulan yang lalu, bersilaturahmi ke rumah kami. Walaupun 12 tahun sudah kami tak pernah bertemu, tapi kami langsung akrab dengan anak-istrinya. Terbayang juga bagaimana dia dan suami beserta beberapa teman kami ingin membangun impian kami membuat sebuah koperasi kecil yang bisa membantu ummat. Namun sayang, cita-cita itu belum terlaksana, karena beberapa hambatan.
Bagi saya sendiri, kematian Dewo seperti sebuah teguran bagi saya. Saya seperti disadarkan tentang kematian yang kapan saja di mana saja akan menghampiri kita, tanpa kompromi. Ketika kami berta’ziah ke kediamannya. Dewi bercerita banyak. Tentang proses kematiannya, tentang bingungnya keluarga menerima kabar ini, dan juga tentang perilaku Dewo di sebulan terakhir ini. Dewi baru menyadari setelah dia mengingat-ngingat lagi kejadian sehari-hari selama sebulan sebelumnya, setelah dia buka diary suaminya, agenda suaminya, berkas-berkasnya, dll. Di semua tempat ada tulisan tentang kematian.
Ada tulisan Dewo tentang cita-citanya naik haji. Di salah satu baris tertulis : bawa apa kita kalu nanti ‘pulang’ ?. Di buku catatannya juga ada tulisan tentang mati. Dan dalam sebulan ini semangat Dewo dalam bekerja, memberikan pelatihan kepada rekan2 dan anak buahnya sangat luar biasa. Bahkan di hari Jumat, sehari sebelum kejadian itu, penampilannya dalam pemberian materi pelatihan sampai dikagumi para pimpinan, sampai2 para pimpinan rela ikut mendengarkannya samapai acara selesai, karena kagum akan gaya bicaranya yang sgt semangat. Dan beberapa hari sebelumnya, Dewo ngotot menyumbangkan papan whiteboard utk musholla, padahal waktu itu dia baru pulang kerja dan sudah malam. Dewi bilang : Pah, besok aja, udah malem nih. Dijawab Dewo: Mah, kalo beramal kita harus bersegera. Kita tak tau kapan kita mati. Ini amal baik yg bisa dibawa mati, dana menentukan seperti apa kita kalo sdh mati. Dewi agak kaget jg waktu itu, tapi gak ngeh kalo itu sebuah pertanda.
Dewo adalah orang yang baik. Dia selalu ingin menolong dan menyenangkan orang lain. Saya dan Dewo saling memberi inspirasi hidup. Ketika saya tidak lolos seleksi Paskibraka karena kondisi fisik saya yang berkacamata, dan sedikit cacat di mata saya, sementara nilai yg lain bagus, Dewo yg kemudian berusaha merubah kriteria penilaian seleksi paskibraka utk generasi selanjutnya. Katanya dia jadi terinspirasi utk memperjuangkan yg lainnya yg mungkin punya kondisi kurang lebih sama dgn saya. Saya juga terinspirasi dalam hal pemahaman Islam. Dewo banyak memberikan masukan tentang makna hidup. Bahwa hidup hanya sementara. Dan dia jg menginspirasi bahwa hidup adalah utk berjuang. Inilah awal saya mulai mendalami Islam, sampai akhirnya mau berjilbab. Dewo kemudian terinspirasi untuk mengajar setelah bertemu dengan saya yang sudh jadi dosen. Dia senang membagi ilmunya katanya. Tapi kalo jadi guru dia gak sanggup. Jadilah dia seorang trainer, instruktur di lingkungan internal Bogasari, yang melatih para staf dan rekannya, memberikan inspirasi dan menularkan semangat hidupnya yang luar biasa. Dan sekarang, Alloh yg menginspirasikan tentang kematian lewat Dewo.
Setelah kematian sahabat, teman, kakak yang terkenal suka mbanyol dan kocak ini, terus terang wacana hidup saya banyak berubah. Saya jadi banyak bersyukur, setelah sebelumnya sering mengeluh soal materi. Karena dibanding kondisi Dewi yang tidak bekerja, hanya mengandalkan warung kecil di rumahnya, saya masih punya penghasilan yang jauh lebih besar. Saya masih punya suami yang menyayangi saya dan anak2. Saya tak bisa membayangkan sedihnya Dewi ditinggal suaminya yang jg terkenal sabar dan penyayang terhadap keluarganya. Saya juga tersadar tentang sisa umur kita yg tak tau sampai kapan. Sementara maksiat masih byk dilakukan, masih belum berbakti ke orang tua, belum banyak ibadah, belum banyak sedekah, belum maksimal berjihad, masih sering nyakitin orang lain, dan masih banyak kurangnya lagi. Aku juga malu, sudah lama berjibab, apa yang telah aku hasilkan, sumbangkan untuk ummat, untuk orang lain?
Mungkin karena Dewo orang baik, Alloh segera mengambilnya, agar dia terhindar dari maksiat yang mungkin dialaminya kalau dia masih hidup. Kakak kelas angkatan 93 di SMU 8 ini adalah seorang yang penuh tanggung jawab dan siap menolong orang lain. Bahkan di akhir hayatnya, dia membuktikan hal itu. Dia wafat sebagai seorang pahlawan yang rela menolong stafnya yang terjebak di dalam sillo gandum Bogasari. Sebagai seorang pimpinan, bapak seorang putri dan seorang putra ini berani mengambil risiko yaitu nyawanya sendiri utk menyelamatkan rekan kerjanya itu. Terngiang pesan Dewo kepada Dewi istri yang telah memberinya Ica (5 thn) dan Abi (1,5 thn) : Mah, kita sendiri yang menentukan bagaimana kondisi kita di saat kematian. Kita mau jadi bajingan, koruptor, atau pahlawan, itu ditentukan amalan kita. Dan dia telah membuktikannya di detik terakhir hidupnya, bahwa dia adalah seorang pahlawan…..
Ya Alloh…terimalah Dewo di sisi-Mu. Ampunilah dosa2nya. Terimalah amalan baiknya. Berikanlah kesabaran, kekuatan, kemudahan rizki untuk Dewi, Ica, dan Abi. Jadikanlah anak-anaknya anak-anak yang sholeh-sholehah, dn jadi manusia yang berhasil dunia-akhirat.
"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku."
(QS. Al-Fajr : 27-30)